Grobogan- Balai Desa Tarub, Kecamatan
Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, sejak pagi telah dipadati oleh warga Desa
Tarub yang ingin menyaksikan pagelaran Wayang dan Kirab Gunungan yang
dilaksanakan pada hari Rabu (16/11). Acara ini merupakan titik puncak dari
serangkaian acara Haul Ki Ageng Tarub 2016. Acara Haul yang diselenggarakan
secara rutin setiap tahunnya ini bertujuan untuk mengenang dan menghormati Ki
Ageng Tarub, leluhur Desa Tarub yang terkenal dengan legenda Kisah 7
Bidadarinya. Selain itu, acara ini juga merupakan ikon budaya Desa Tarub yang
telah diresmikan sebagai Desa Wisata pada 24 Oktober 2016 lalu.
Gegap gempita perayaan Haul Ki Ageng Tarub sudah terasa
sejak hari sehari sebelumnya. Rangkaian acara Haul dimulai dengan Khataman
Al-Quran dan Pengajian Akbar pada hari Selasa, 15 November 2016, dan
dilanjutkan dengan acara pagelaran wayang dan kirab gunungan pada keesokan
harinya. Acara Haul Ki Ageng Tarub juga dihadiri oleh tamu-tamu penting,
diantaranya adalah Pangageng Sasana Wilopo Keraton Kasunanan Surakarta
Hadiningrat, FKPD Kabupaten Grobogan, MUSPIKA Tawangharjo, serta terbuka untuk
seluruh elemen masyarakat.
Kepala Desa Tarub, Ali Maskuri, menjelaskan bahwa pihaknya
berusaha melestarikan budaya yang telah lama melekat di Desa Tarub dengan
menyelenggarakan Haul Ki Ageng Tarub secara rutin. Lebih lnjut, tuturnya, acara
Haul Ki Ageng Tarub juga merupakan sarana untuk memberikan edukasi kepada para
siswa yang tinggal dan menuntut ilmu di sekitar Desa Tarub.
“Acara ini terbuka untuk umum, artinya seluruh elemen
masyarakat dari mana pun bisa turut bergabung dan menyaksikan. Bahkan
siswa-siswa yang berada di sekitar desa ini juga diajak untuk turut serta
sebagai pengamat budaya, sehingga bisa melestarikannya kelak jika mereka
dewasa.” ujarnya saat ditemui oleh tim Humas Kwarran Tawangharjo di sela-sela
acara.
Sebagaimana penuturan Kepala Desa Tarub, perhelatan akbar
dalam rangka Haul Ki Ageng Tarub terbuka untuk umum dan menyedot banyak
perhatian warga. Antusiasme warga dalam acara Haul ini terbilang cukup tinggi,
terbukti dengan banyaknya warga yang telah memadati Balai Desa Tarub, Lapangan
Desa Tarub, dan Makam Ki Ageng Tarub yang dijadikan sebagai titik keramaian.
Warga telah bersiap untuk memperebutkan isi gunungan yang akan dikirab
(diarak-red) dari Balai Desa Tarub menuju ke Lapangan Desa Tarub dan Makam Ki
Ageng Tarub. Tidak hanya warga sekitar Desa Tarub saja, namun peziarah-peziarah
yang datang dari luar daerah Grobogan juga tampak ikut memadati kerumunan
warga.
“Kami sudah menunggu kirab gunungan untuk ngraup berkah
(mengambil berkah) dari isi gunungan. Beberapa rombongan peziarah dari Pati,
Demak, Kudus dan sekitarnya juga sudah datang silih berganti sejak hari Minggu
(13/11)” tutur Rasmi, salah seorang warga Desa Tarub yang ikut menunggu kirab
gunungan bersama kerumunan warga di sekitar Lapangan Desa Tarub.
Untuk mengamankan jalannya acara dan kirab gunungan,
Pemerintah Desa Tarub bekerja sama dengan pihak Kepolisian dan Pramuka Peduli
Kwarran Tawangharjo. Hal ini bisa dilihat selama acara berlangsung. Beberapa
anggota Pramuka Peduli tampak berlalu lalang mengatur keramaian dan
berkoordinasi dengan beberapa pihak demi kelancaran acara.
Pukul 14.40 WIB, rombongan kirab budaya mulai memasuki
Lapangan Desa Tarub untuk melakukan ruwat gunungan atau yang biasa disebut
dengan Wilujengan. Rombongan terdiri dari satu regu Marching Band
MTS Nuril Huda Tarub, disusul oleh para Pangangeng Sasana Wilopo Kraton
Kasunanan Surakarta Hadiningrat serta para pemanggul gunungan, dan ditutup oleh
para tamu undangan. Sedikitnya ada dua buah gunungan yang akan diperebutkan
oleh warga. Ketika gunungan mulai memasuki lapangan ruwatan, para anggota Pramuka Peduli dengan sigap memposisikan diri sebagai pagar betis guna mencegah warga memperebutkan isi gunungan sebelum
diruwat.

Warga yang tidak sabar segera menarik gunungan bahkan
sebelum gunungan memasuki lapangan. Hal ini sontak memicu keramaian warga yang
lain, sehingga keadaan menjadi sedikit sulit untuk dikendalikan. Melihat hal
ini, para anggota Pramuka Peduli dan Kepolisian Sektor Tawangharjo bahu-membahu
menertibkan warga yang saling dorong dan berdesakkan untuk mendapatkan isi gunungan.
Beruntung kericuhan dapat segera diredam sebelum terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan.
“Hal
ini kami lakukan untuk memperat hubungan dengan masyarakat, juga untuk
menunjukkan pada warga jika kepramukaan siap membantu dalam kondisi apapun,” tutur koordinator Pramuka Peduli, Budi Santoso. “Pramuka Peduli tidak hanya
sekedar membantu mereka yang terkena bencana. Memastikan acara masyarakat
berjalan dengan tertib dan aman juga merupakan sebagian dari tugas kami.”
pungkasnya. -KWK
Peliput: Kharissa Widya Kresna